Senin, 13 Juli 2009

Membuat Preparat Melintang Dengan Metode Parafin

PENDAHULUAN
Jaringan dalam bahasa Perancis adalah "tissue" yang pertama kali digunakan oleh Bichat seorang ahli anatomi dan fisiologi dari Perancis yang terkesan oleh ragam anyaman yang dijumpainya sewaktu mendeteksi tubuh. Observasi mikroskop pada jaringan yang berbeda memastikan bahwa satuan terkecil dari jaringan dibentuk oleh sel, sel inilah merupakan struktur terkecil yang membentuk tubuh manusia,hewan dan tumbuhan (Linuary, 2000.. Tubuh tumbuhan secara morfologi terdiri atas unit sel yang dilindungi oleh dinding, dan masing-masing sel dengan mengadakan kesatuan dengan adanya substansi antar sel. Di dalam tubuh tumbuhan sel-sel ini terdapat dalam kelompok yang secara struktural dan fungsional berbeda dengan kelompok sel yang lain. Kelompok-kelompok sel-sel tersebut dikenal dengan jaringan (Sumardi, 2002).
Preparat awetan jaringan tumbuhan adalah salah satu media pembelajaran Biologi yang sangat efektif. Dengan latar belakang seperti di atas, maka diharapkan kita dapat mengamati dan melihat preparat dengan menggunakan metode paraffin dengan pewarnaan tunggal (Anonim, 2004).
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Ricinus communis (jarak) mempunyai batang berkayu dan berbentuk bulat. Permukaanya berlu serong ke atas atau condong. Percabangan batang monopodial. Daun dari tanaman Ricinus communis adalah daun tidak lengkap memiliki tangkai dan hrlaian saja, jadi termasuk daun bertangkai. Tangkai daunnya bulat berongga. Daunnya menjari dan bangun daunnya bulat. Bentuk daunnya memanjang. Ujung daun runcing. Tulang daun menyirip. Bagian tepi daunnya bergerigi (Anonim, 2005).
Ricinus communis memiliki daun bercangap menjari. Daging daunnya seperti perkamen. Permukaanya licin. Termasuk daun tunggal. Panjang 10-75cm dan lebar 10-65cm, warna daunya coklat hijau. panjang tangkainya 35-50cm, beruas-ruas. Warnanya coklat kebiruan. Arah tumbuhnya. Akarnya tunggang, bercabang. Termasuk akar tunjang. Warnanya kuning muda.Biji dan daun Ricinus communis mengandung saponin, di samping itu bijinya juga mengandung alkaloida, sedangkan daunnya juga mengandung flavonoida (Anonim, 2005).
Sel tumbuhan mempunyai bentuk, ukuran dan struktur yang bervariasi. Struktur sel rumit, namun demikian semua sel mempunyai persamaan dalam beberapa segi dasar. Jaringan yang menyusun tumbuh-tumbuhan terdiri dari jaringan muda dan dewasa. Jaringan-jaringan ini dapat ditemukan pada bagian akar, batang dan daun tumbuhan. Jaringan ini dapat dilihat dengan membuat suatu preparat penampang dari bagian-bagian tumbuhan. Untuk memlihat adanya jaringan pada tumbuhan dengan menggunakan metode parafin maka dilakukanlah percobaan kali ini (Sumardi, 2002).
Pembuatan preparat awetan jaringan tumbuhan di laksanakan secara bertahap, sebagai berikut (Anonim, 2004):
1.Bagian tumbuhan yang akan dijadikan preparat dimasukkan ke dalam larutan FAA.
2.Lalu bahan diaspirasi untuk rnenghilangkan udara dan jaringan.
3.Setelah diaspirasi bahan menuju perlakuan dengan parafin,
4.Dilanjutkan dengan proses penanaman bahan dalam parafin cain dan dicetak dalam bentuk persegi panjang,
5.Bahan dalam parafin yang mengeras selanjutnya dipotong menggunakan mikrotom.
6.Potongan preparat kemudian diletakkan di atas kaca obyek yang sebelumnya telah diolesi dengan houpe-adhesive dan ditetesi formaldehide 4%.
7.Preparat kemudian dipanaskan di atas slide warmer hingga kering, agar preparat melekat pada kaca obyek,
8.Selanjutnya preparat memasuki pewarnaan.
9.Preparat yang telah diwarnai ditetesi entelan. lalu ditutup dengan kaca penutup (cover glass)
10.Selanjutnya preparat diberi label dan siap digunakan

Berikut ini digambarkan tahapan pembuatan preparat awetan jaringan tumbuhan secara skematis (Anonim, 2004):

Metode parafin termasuk metode irisan yang merupakan metode rutin atau standar. Pengamatan secara mikrokopis dari sesuatu jaringan yang normal sifatnya maupun yang mengidap sesuatu penyakit (patologis) akan lebih baik hasilnya bila dilakukan dari preparat jaringan yang telah dipersiapkan secara baik, telah dilakukan penyayatan yang cukup tipis, serta diberi pewarnaan yang sesuai, sehingga berbagai elemen jaringan yang diteliti lebih mudah untuk diamati. Dengan demikian, tidak saja penelitian secara mikroanatomi yang dapat dilakukan, tetapi juga memberi kemudahan dalam membedakan berbagai perubahan yang terjadi pada sel-sel jaringan yang diteliti. Adakalanya beberapa jenis jaringan memerlukan perlakuakan yang khusus untuk dapat menelitinya, seperti dalam hal jenis pewaranaan yang harus digunakan untuk sesuatu jenis jaringan tertentu (Sugiharto, 1989).
Suatu larutan fikasasi (fiksatif) yang baik akan mematikan serta mengawetkan semua isi sel dalam ukuran serta posisi semula dalam sel. Akan tetapi bila ditangani secara kasar, bahan akan rusak sebelum dimasukkan ke dalam larutan pengawet (Sugiharto, 1989).


METODOLOGI
Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah botol sampel (10 buah), botoll fiksasi (2 buah), nampan (1 buah), gelas ukur (2 buah), pipet tetes, pinset (1 buah), oven (1 buah), dan silet (1 buah).
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah akar tanaman jarak (Ricinus communis). Asam acetat glacial, aquades, Formalin, Alkohol 70%, alkohol bertingkat ; 40%, 60%, 80%, 95%, 100%. xylol, parafin cair dan parafin padat, aquades dan kertas blok.
Cara Kerja
Cara kerja dari percobaan ini adalah:
• Menyediakan semua alat-alat yang akan digunakan di laboratorium dan membuat larutan-larutan yang diperlukan.
• Memotong jaringan akar Ricinus communis sepanjang 2 mm.
• Melakukan fiksasi ; memakai larutan Formalin-Aceto-Alkohol (FAA) yaitu
- alkohol 70 % 90 ml
- asam asetat glacial 5 ml 12 jam
- formalin 5 ml
• Merendam jaringan bersama dengan larutan FAA
• Melakukan pencucian dan Dehidrasi yaitu membuang larutan fiksasii berturut-turut dan menggantinya dengan menggunakan alkhol bertingkat yaitu 40%,60%, 80%, 95%, 100% dengan interval waktu 30 menit.
• Dealkoholisasi yaitu membuang alkohol berturut-turut dan menggantinya dengan campuran alkohol-xylol 3 : 1, campuran alkohol-xylol 1 : 1, campuran alkohol-xylol 1 : 3, xylol I, xylol II dengan interval waktu 30 menit.
• Kemudian mencairkan paraffin yang akan digunakan, setelah cair dimasukkan ke dalam botol kaca yang berisi jaringan dengan xylol dengan perbandingan paraffin : xylol yaitu 9 : 1, yang diletakkan selama15 menit diudara bebas dan 15 menit di dalam oven.
• Melakukan infiltrasi yaitu mengeluarkan botol yang berisi xylol-parafin darii oven lalu membuang campuran xylol-parafin dan menggantinya dengan parafin murni. Kemudian dibiarkan diudara terbuka selama 15 menit dan di dalam oven selama 15 menit berikutnya
• Penyelubungan yaitu mengganti parafin lama dengan parafin baru, kemudian meletakkan jaringan tersebut pada dasar blok kertas yang telah dibuat kemudian dituangkan paraffin dan dibiarkan membeku selama beberapa hari.Pengirisan dengan membuat irisanirisan dengan menggunakan mikrotom dengan tebal. Perekatan : irisan diletakkkan pada gelas benda dengan campuran glycerin/albumin yang dibubuhi air. Kemudian gelas benda ditaruh dalam thermostat dengan temperatur 45 o C selama + jam.
• Melakukan Pewarnaan tunggal dengan safranin 1 % dalam air. Berturut-turut gelas benda dimasukkan ke dalam:
- Xylol I 3 menit
- Xylol II 3 menit
- Campuran alkohol/xylol 1 : 3
- Campuran Alkohol : Xylol 1 : 1 3 menit
- campuran Alkohol : Xylol 3 : 1 3 menit
- alkohol absolute I 3 menit
- alkohol absolute II 3 menit
- alkohol 95 % 3 menit
- alkohol 80% 3 menit
- alkohol 60 % 3 menit
- alkohol 40 % 3 menit
- Aquadest secukupnya 2 jam
- Aquadest secukupnya
- alkohol 40 % 3 menit
- alkohol 60 % 3 menit
- alkohol 80% 3 menit
- alkohol 95 % 3 menit
- alkohol absolute I 3 menit
- alkohol absolute II 3 menit
- campuran Alkohol : Xylol 3 : 1 3 menit
- Campuran Alkohol : Xylol 1 : 1 3 menit
- Campuran alkohol/xylol 1 : 3
- Xylol I 3 menit
- Xylol II 3 menit


Hasil

Fiksasi >FAA (For malin, Asam asetat glacial, dan alkohol 70%)
!
Dehidrasi >Menggunakan alkohol bertingkat dari konsentrasi 40%, 60%, 80%, 95%, dan 100%.

Dealkoholisasi >Menggunakan Xylol, dengan perbendingan alkohol 100% : Xylol 3:1, 1:1 dan 1:3 dan menggunakan Xylol I dan Xylol II, serta menggunakan xylol : paraffi xylol : paraffin yaitu 1 : 9.
!
Infiltrasi/Penjernihan > Campuran paraffin dan xylol diganti dengan paraffin murni

!
Penyelubungan> Parafin lama dengan parafin baru.
!
Pengirisan> Menggunakan mikrotom
!
Defaranisasi> Menggunakan zat warna yaitu safranin

Pembahasan
Praktikum kali ini menggunakan bahan yaitu akar tanaman jarak (Ricinus comunis) yang dipotong melintang dengan panjang 2mm, kemudian dilakukan fiksasi dengan menggunakan larutan FAA (Formalin, Asam asetat glasial, dan alkohol 70%), tujuan dari fiksasi adalah menjaga atau mengawetkan seluruh stuktur sel sehingga sedapat mungkin berada dalam keadaan sama atau hamper sama dengan keadaan aslinya pada waktu masih hidup. Penggunaan FAA tersebut karena penetrasi alkohol dan asam asetat ke dalam jaringan dapat berlangsung dengan cepat sehingga pematian dan fiksasi dapat berjalan dengan cepat, juga merupakan larutan yang stabil dan pengawet yang baik.
Kemudian langkah selanjutnya yaitu dehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat dengan konsentrasi mulai dari 40%, 60%, 80%, 95%, dan 100%, fungsi dari dehidrasi adalah untuk menghilangkan kandungan air dari jaringan Ricinus comunis tersebut sehingga dapat dikenakan larutan yang dapat bercampur atau larut dalam paraffin dimana bahan akan ditanam. Digunakan alkohol bertingkat tersebut agar jaringan kandungan airnya dapat keluar sedikit demi sedikit hingga pada konsentrasi 100% pengeluaran airnya pun maksimal.
Kemudian langkah berikutnya adalah dealkoholosasi yang menggunkan xylol : alkohol 100% secara bertingkat pula yaitu dengan perbandingan 1:3, 1:1, dan 3:1, hal ini dilakukan agar pengeluaran alkoholnya juga maksimal sehingga larutan xylol inilah yang nantinya dapat terikat langsung dengan paraffin dan agar jaringan tersebut dapat beradaptasi, dan dengan menggunakan xylol I dan xylol II langkah ini dilakukan agar jaringan betul-betul beas dari alkohol dan hanya ada xylol, , serta menggunakan xylol : paraffin yaitu 1 : 9 hal ini dilakukan untuk menghilangkan xylol dari jaringan.
Kemudian langkah selanjutnya adalah infiltrasi/penjernihan, yaitu campuran paraffin dan xylol diganti dengan paraffin murni yang bertujuan untuk menghilangkn kandungan xylolnya secara maksimum serta untuk merekatkan jaringan.
Langkah selanjutnya yaitu penyelubungan dengan merendam jaringan dalam paraffin murni selama 15 menit diudara terbuka dan 15 menit di dalam oven, kemudian setelah mencair jaringan dimasukkan ke dalam blok dan dituangkan kembali paraffin murni kemudian dibiarkan pada suhu kamar agar parafinnya membeku selama 1 – 2 hari atau 48 jam. Hal ini bertujuan agar jaringan dapat dengan mudah terpotong tanpa merusak jaringan akar tersebut.
Kemudian dilakukan pengirisan dengan menggunakan mikrotom, namun kami tidak melakukan pemotongan dikarenakan paraffin yang kami gunakan merupakan paraffin yang memiliki titik beku yang rendah sehingga langkah selanjutnya tidak dapat kami lanjutkan. Jadi dapat dikatakan percobaan yang kami lakukan terhadap jaringan akar Ricinus comunis tidak berhasil karena adanya kesalahan dalam prosedur kerja dan penggunaan bahan-bahan.

KESIMPULAN

Dari percobaan ini kami tidak dapat menarik kesimpulan dikarenakan percobaan kami tidak berhasil untuk melihat jaringan akar dari Ricinus comunis tersebut karena paraffin yang digunakan memiliki titik beku yang rendah atau adanya kesalahan dalam prosedur pengerjaannya dan kesalahan menggunakan bahan-bahan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2004,http://www.asosiasipoliteknik.or.id/index.php?module=aspi_jurnal&func=display&jurnal_id=210 (14 Februari, 2008 ).

Anonim,2005,http://www.iptek.apjii.or.id/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku1/1-252.pdf, (14 Februari, 2008 ).

Haruna, F. dan Asnady S, M., 2005, Penuntun Praktikum Mikroteknik Tumbuhan,
Universitas Hasanuddin, Makassar.

Lianury, Robby N, 2000, Histologi, Universitas Hasanuddin Press, Makassar.

Sugiharto, 1989, Mikroteknik, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sumardi, I. dan Pudjoarinto, A., 2002, Struktur Perkembangan Tumbuhan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

1 komentar:

  1. thx bro..
    mampir kaks >> http://iyassukamaengame.blogspot.com/

    BalasHapus

Your Comment here, please:

Page